Tanggal Upload : 28-02-2023 16:21


Pelayanan Kolaboratif Integratif Masyarakat Peduli HIV/AIDS tanpa Diskriminasi

Puskesmas Gamping II

Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) masih menjadi masalah kesehatan yang berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia yang dapat menimbulkan berbagai masalah sosial ekonomi. Berdasarkan pusat data Kementerian Kesehatan RI, kasus HIV AIDS di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Selama sebelas tahun terakhir jumlah kasus HIV di Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 2019, yaitu sebanyak 50.282 kasus. Sebagian besar kasus HIV didominasi usia produktif. Sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan HIV secara menyeluruh.

Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis virus yang menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi oleh HIV.

Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seks vaginal atau anal, penggunaan jarum suntik, dan transfusi darah. HIV juga dapat ditularkan dari seorang ibu ke anaknya selama kehamilan, persalinan dan menyusui. HIV tidak menular melalui udara, air, keringat, air mata, air liur, gigitan nyamuk, atau sentuhan fisik. Kasus HIV sebagian besar terkonsentrasi pada ‘populasi kunci’ yang merupakan populasi paling rentan karena perilaku berisiko tinggi, seperti Pekerja Seks Perempuan (PSP), Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL), waria dan pengguna narkoba suntik (penasun).

Tidak ada gejala spesifik pada saat orang pertama kali terkena HIV hanya seperti flu ringan 1-2 minggu. Pada kebanyakan kasus, HIV sering ditemukan pada saat seorang ODHIV (Orang Dengan HIV) jatuh pada stadium AIDS. Untuk dapat mengetahui sesorang terinfeksi HIV atau tidak, harus dilakukan pemeriksaan darah. Pemeriksaan dilakukan bagi orang-orang yang memiliki risiko terpapar HIV. Seseorang harus segera melakukan pemeriksaan HIV jika terduga terpapar HIV, agar dapat segera mengetahui statusnya dan segera melakukan pengobatan ARV (antiretroviral). Tujuan pengobatan ARV adalah untuk memperbaiki kualitas hidup, mencegah infeksi oportunistik, mencegah progresi penyakit dan mengurangi penularan.

Pembatasan aktivitas masyarakat selama pandemi COVID-19 menyebabkan akses masyarakat akan pemeriksaan HIV semakin berkurang. Stigma dan diskriminasi juga masih menjadi hambatan dalam mengakses layanan untuk pencegahan, tes dan pengobatan HIV. Menjawab tantangan tersebut dan dalam upaya transformasi kesehatan Puskesmas Gamping II yang telah membuka layanan pemeriksaan HIV/Aids sejak tahun 2016,  menggagas inovasi “Yakin Sehati Punggawa” (Pelayanan Kolaboratif dan Integratif Masyarakat Peduli HIV/AIDS tanpa Diskriminasi Puskesmas Gamping II).

Kemudahan akses dalam mendapatkan pemeriksaan HIV dan pengobatan ARV diupayakan melalui layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) mobile, VCT extrahour dan membuka layanan Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP) HIV. Untuk dapat meluaskan jangkauan layanan pemeriksaan VCT, dibuka pendaftaran secara online melalui http://bit.ly/YakinSehatiPunggawa, sehingga masyarakat dapat mengakses layanan VCT secara gratis, mudah dan rahasia.

Edukasi merupakan elemen penting upaya peningkatan dan pemberdayaan kesehatan. Puskesmas membangaun kerjasama dengan KATAHATI (Kader Tanggap HIV/AIDS tanpa Diskriminasi) dalam hal mendidik masyarakat tentang HIV, pemetaan wilayah, promosi layanan Puskesmas, penjangkauan skrining, dan pendampingan pengobatan. Upaya kolaborasi dan penggalangan dukungan lintas sektoral terus ditingkatkkan. Selain membangun jejaring dengan RS dan BPM, serta instansi pemerintahan daerah ataupun pendidikan, Puskesmas juga menggandeng LSM diantaranya Yayasan Vesta Indonesia dan Yayasan Victory Plus untuk penjangkauan dan pendampingan pengobatan.

Akhirnya dengan upaya inovasi “Yakin Sehati Punggawa”, Puskesmas Gamping II dapat mendukung program percepatan eliminasi HIV, AIDS dan IMS pada akhir tahun 2030. Terbukti dapat meningkatkan angka capaian SPM HIV di Puskesmas Gamping II menjadi 104,8% pada tahun 2022. Dengan terwujudnya pelayanan pemeriksaan skrining HIV yang terintegrasi dengan pelayanan PDP HIV, pasien yang tediagnosa HIV dapat segera mengakses pengobatan ARV. Sampai dengan Januari 2023 Puskesmas Gamping II sudah memberikan terapi ARV kepada 23 ODHIV dan belum ada yang berstatus loss of follow up (LFU).

 

dr. Novi Eko Winarsih Hartono

Puskesmas Gamping II